Mengantar Masa Puber

Mengantar Masa Puber

Pubertas berarti kedewasaan, yaitu masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik dan psikologis, serta terjadi kematangan alat-alat seksual dan reproduksinya. Serta terjadi kematangan alat-alat seksual dan reproduksinya. Masa puber merupakan masa peralihan menuju masa remaja. Umumnya pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa ini berlangsung cepat dan singkat. Ahli perkembangan mengatakan masa remaja sebagai masa topan badai dan stres. Ini disebabkan oleh kecenderungan sikap anak yang telah memiliki keinginan untuk bebas menentukan nasib sendiri. Maka, mereka perlu bimbingan agar menjadi individu yang memilki rasa tanggungjawab.
Pubertas biasanya terjadi selama 3-4 tahun. Pada masa pubertas, anak akan mengalami perubahan fisik primer dan sekunder. Perubahan primer adalah perubahan yang pasti dialami oleh anak, contohnya, fungsi organ seksual. Sedangkan perubahan sekunder merupakan perubahan pada fisik yang tampak dari luar sebagai pembeda antara laki-laki dan perempuan. Masa pubertas juga membuat perubahan pada sikap dan perilaku remaja, antara lain: - Cenderung menjadi penyendiri dan menarik diri dari teman-teman dan keluarganya. – Emosi tinggi, anak mudah marah, gelisah serta menangis karena hal kecil. – Mulai merasa bosan dengan hal yang dahulu disukai. Pada anak tertentu diikuti dengan prestasi yang menurun. – Tidak mau bekerjasama, sering membantah, menentang, mengkritik, merendahkan serta membuat permusuhan. – Menjadi kurang percaya diri, misalnya dalam hal penampilan. Ia takut orang lain memperhatikan dan member kritikan atau komentar negative.

Untuk bisa mengantar masa puber dengan baik, peran orang tua sebaiknya:
1.       Pahami bahwa pubertas merupakan prose alami yang akan dijalani anak sesuai tahapan perkembangan yang akan dialaminya.
2.       Orangtua perlu membekali diri dengan berbagai informasi agar dapat member penjelasan dan dapat menjawab pertanyaan tentang pubertas. Jangan merasa tabu untuk menjelaskannya.
3.       Tetap bersikap tenang dan bijaksana saat mengahadapi tingkah laku anak yang tengah bereksperimen dengan hal baru. Seperti saat putri mengalami haid.
4.       Bisa menjadi teman dan pendengar yang baik. Dengan menyesuaikan cara berkomunikasi dengan remaja, maka remaja akan merasa nyaman ‘curhat’ dengan orangtuanya.
5.       Jelaskan bahwa pubertas adalah prose alami yang dialami oleh semau anak. Proses perubahan yang terjadi pada dirinya merupakan proses alamiah. Tekankan padanya agar tidak malu tentang perubahan biologisnya. Di sini orang tua perlu bersikap proaktif.
6.       Jelaskan secara detail semua hal yang berkaitan dengan reproduksi. Termasuk cara memakai pembalut saat sedang haid dan cara membersihkannya.
7.       Jelaskan pula pada anak akan pentingnya menghargai dan menjaga kehormatan dirinya. Selain itu berikan pengenalan peran dalam interaksi social dan pengenalan dirinya.

Pendampingan yang baik orangtua akan mengantarkan anak menjalani masa pubertas secara positif dan menunjang perkembangannya menjadi pribadi yang tangguh, matang, percaya diri dan dewasa dalam berpikir.  


Sumber:

SUARA MUHAMMADIYAH 22/100|16-30 NOVEMBER 2015 HALAMAN: 51

Iman dan Ilmu Meningkatkan Kualitas Diri

Iman dan Ilmu Meningkatkan Kualitas Diri

Diantara ayat-ayat Al-Qur’an yang terkait dengan peningkatan kualitas adalah ayat 11 surat Al-Mujadilah yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis. “maka lapangkanlah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs Al-Mujadilah: 11).
Ayat ini turun berkenaan dengan suatu peristiwa untuk menghormati sahabat yang lebih beriman ketimbang yang lain oleh Rasulullah saw. Beberapa orang sahabat yang mengikuti perang badar telah hadir. Tetapi ada diantara sahabat tersebut tak bisa duduk dan tak ada yang mau tergeser memberi tempat.
Melihat hal itu, Rasulullah saw. Merasakan kurang senang kemudian meminta yang hadir untuk berdiri dan member tempat sahabat yang mempunyai derajat lebih tersebut, meski yang diminta kurang suka. Melihat yang demikian Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Allah merahmati

Menjumpai Allah Lewat Orang Lemah

Menjumpai Allah Lewat Orang Lemah
Ali Trigiyanto

Sebagian orang terkadang menyangka bahwa keshalihan individual punya nilai lebih tinggi sehingga ia begitu bersemangat mengejar keshalihan individual dan kurang memperhatikan keshalihan social. Banyak orang yang bangga kalau bisa naik haji dan umrah berulang-ulang, atau rajin puasa dan shalat malam, namun disisi lain tumpul kepekaan sosialnya disaat melihat saudaranya menanggung sakit, putus sekolah, menganggur, kelaparan, dan juga kehausan.
Padahal begitu besar hak sesame yang mesti dipenuhi oleh manusia dalam pergaulan sehari-hari. Sehingga bila hak ini tidak dipenuhi padahal yang bersangkutan mampu dan longgar, maka kelak ia akan dituntut bukan oleh temannya itu, namun Allah sendiri yang akan menuntutnya. Hadits Qudsi riwayat Imam Muslim berikut ini membuktikannya.
Bersumber dari sahabat Abu Hurairah ia berkata bahwa nabi saw pernah bersabda: “Pada Hari Kiamat kelak, Allah, mengatakan: ‘Wahai Anak Adam, Aku sakit tetapi kamu tidak menjenguk-Ku’. Hamba bertanya: ‘Bagaimana aku harus menjenguk Mu, Sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam

MEMBANGUN UMAT ISLAM YANG BERKEMAJUAN

MEMBANGUN UMAT ISLAM YANG BERKEMAJUAN
Dr H Haedar Nashir, MSi

Umat Islam diidealisasikan sebagai Kharya Ummah atau umat terbaik (Qs Ali Imran: 110), ummatan wasatha atau umat tengahan dan syuhada ‘ala al-nas atau pelaku sejarah (Qs Al-Baqarah: 143), dan dijanjikan Allah menjadi Khalifah yang akan menguasai dunia (Qs Ar-Rum: 55). Sungguh betapa hebat kedudukan sekaligus harapan akan kehadiran umat yang maju, unggul, dan terbaik di muka bumi ini.
Islam sebagai agama Allah yang dianut umat Islam pun merupakan agama yang sempurna, utama, dan paripurna (Qs Al-Maidah: 3), yang tidak ada agama yang paling diridhai Allah kecuali Islam. Umat Islam sering menggelorakan slogan keyakinan Al-Islam ya’lu wa la yu’la ‘alaihi, bahwa Islam itu agama yang unggul dan tidak ada agama apupun yang menyamainya. Umat terbaik dengan agama yang sempurna tentu akan melahirkan peradaban utama.
Namun pada kenyataan saat ini umat Islam masih tertinggal dalam banyak aspek kehidupan. Dalam bidang ekonomi umat Islam dhu’afa. Dalam politik selain terpecah belah juga belum mampu

Kangkuhan Abu Syibrin

KEANGKUHAN
ABU SYIBRIN”

Di kalangan ahli hikmah dikenal sebutan “Abu Syibrin” diambil dari ujaran “syabara-syabran” artinya mengukur dengan menggunakan jari sejengkal. Berarti “Abu Syibrin” itu ialah “Bapak Sejengkal”, maksudnya orang yang ilmunya sebatas jari sejengkal. Bahasa lain, berilmu sedikit.
Orang-orang  yang ilmunya baru sejengkal itu suka merasa berilmu ribuan kilo meter, sehingga timbul kesombongan dalam dirinya. Dirinya merasa sudah mengetahui segala hal, yang lain dianggapnya tidak tahu. Maka, sebutan “Abu Syibrin” hanya pelukisan terhadap orang yang ilmunya belum seberapa tetapi angkuh diri seolah ilmunya luas.
Ilmu memang sering membuat seseorang congkak diri. Baik karena menguasai ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum, menganggap diri serba tahu. Seakan hanya dirinya yang hebat, yang lain tidak ada apa-apanya. Lebih-lebih manakala ilmu yang diperolehnya berasal dari negeri orang nun jauh di sana,

Haji Mabrur

HAJI MABRUR

Memasuki bulan-bulan haji seperti sekarang ini, ungkapan haji mabrur menjadi salah satu kata yang begitu popular di masyarakat, terutama sebagai doa bagi sebagian diantara kita yang akan menuanaikan rukun Islam yang kelima ini. Telah menjadi kultur sebagian masyarakat jika akan menunaikan ibadah haji melakukan “ritual” walimatussafar dan pasti kata “haji mabrur” menjadi kata yang dominan terucap diantara nara sumber dan setiap orang yang hadir pada acara tersebut. Hal itu wajar saja mengingat sabda Nabi Muhammad saw bahwa haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.
Jika mengacu pada kitab-kitab fiqh, khususnya bab haji, kata mabrur hamper selalu diartikan sebagai maqbul, yang berarti “diterima”. Haji mabrur berarti haji yang diterima, maksudnya diterima oleh Allah SwT. Jika haji dipahami pada konteks ini, berarti manusia di dunia ini selamanya tidak pernah

Qurban sebagai Aktualisasi Tauhid Cinta

Qurban sebagai Aktualisasi Tauhid Cinta
Muhbib Abdul Wahab

Salah satu ujud ketauhidan manusia adalah cinta pada Allah (“tauhid cinta”). Karenanya manusia perlu dididik untuk mengaktualisasikan “tauhid cinta”. Cinta kepada Allah itu harus murni dan tulus. Allah tidak diduakan. Bercinta dengan Allah tidak boleh dibarengi dengan perselingkuhan teologis.
Tahid cinta harus dibuktikan dengan kesediaan dan ketulusan berkurban. Salah satu pendidikan tauhid cinta ini melalui ibadah Qurban.
Ibadah Qurban merupakan salah satu jejak Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah “menyembelih anak kandung yang sangat dicintainya, Ismail as.
Mengapa yang dikurbankan itu yang dicintainya? Karena, manusia seringkali terjebak pada cinta dunia, cinta harta, cinta anak, cinta wanita, dan cinta kekuasaan, sementara lupa adanya cinta abadi,

Topologi Anak Menurut Al-Qur’an

Topologi Anak Menurut Al-Qur’an

Banyaknya kasus kekerasan pada anak di berbagai tempat dengan kualitas kekerasan yang kian meningkat, telah melahirkan keprihatinan yang mendalam pada setiap orang yang memiliki kepedulian akan nasib anak-anak dan masa depan mereka. Ketika Islam yang sempurna diturunkan kepada Nabi Muhammad saw di Jazirah Arab, ternyata dunia anak di kawasan tersebut dinaungi mendhung tebal kegelapan karena kasus pembunuhan hidup-hidup terhadap anak-anak perempuan yang dilegalkan oleh tradisi jahiliyah yang menganggap anak perempuan sebagai pembawa sial dan kehinaan bagi orang tuanya.

Akhirnya tradisi jahiliyah tersebut diberantas tuntas oleh Islam. Firman Allah SwT dalam surat-Takwir ayat 8-9 yang artinya:

MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK ORANG YANG MENINGGAL

MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK ORANG YANG MENINGGAL

Tim Fatwa Agama berpendapat bahwa bacaan Al-Qur’an, baik itu surat Yasin maupun surat lainnya yang dihadiahkan untuk si mayit tidak sampai pahalanya kepadanya karena beberapa alasan antara lain:

Pertama, tidak terdapat ayat Al-Qur’an atau Hadits Nabi Muhammad saw yang dapat dijadikan dasar yang kuat untuk melakukannya. Bahakan didalam Al-Qur’an Allah menyatakan bahwa manusia tidak akan memperoleh balasan di akherat melainkan apa yang diusahakannya sendiri ketika masih di dunia. Firman Allah dalam Qs. An-Najm [53]: 39-41 yang artinya:

Teladan Pemimpin Amanah "UMAR BIN ABDUL AZIZ"

Teladan Pemimpin Amanah
UMAR BIN ABDUL AZIZ

Umar bin Abdul Aziz, khalifah ideal. Ia menjadi teladan memimpin sebuah negeri. Pemimpin yang shalih, kharismatik, bijaksana, dan sangat dekat dengan rakyat. Sosok yang membuang jarak pemimpin dan umatnya. Penghafal Hadits, mujtahid, zahid, dan ahli ibadah. Pribadi yang layak digelari Amir al-Mukmin.
Umar memiliki garis keturunan dari Umar bin Khaththab. Nama lengkapnya Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin Abu al-Ash bin Umayyah bin Abd Syams bib Manaf. Anak pertama dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Abdul Aziz bib Marwan, adalah salah seorang dari gubernur Klan Umayyah. Ia seorang pemberani dan suka berderma. Abdul Aziz adalah pria shalih yang pemahaman Islamnya sangat baik. Ia merupakan murid dari Abu Hurairah. Abdul Aziz menikah dengan seorag

Hakekat Orang Bangkrut

Hakekat Orang Bangkrut
Dr Ali Trigiyatno

Pada dasarnya tidak ada orang yang mau mengalami kebangkrutan baik di dunia atau di akhirat. Namun demikian, Nabi Muhammad saw dalam Hadits shahih riwayat Imam Muslim menjelaskan orang yang akan mengalami kebangkrutan besuk di hari kiamat sekaligus nasib akhirnya. Adapun bunyi lengkap Hadits itu adalah sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab,”Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.” Rasulullah saw bersabda: “ Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan (pahala) shalat, puasa, dan zakat, tetapi sering mencaci-maki, menuduh dan makan harta orang lain serta membunuh dan memukul orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada

Jihad Amar 'Adli Nahi Dhulmi

JIHAD AMAR ‘ADLI NAHI DHULMI
Prof Dr HM Amien Rais, MA

Tantangan Muhammadiyah ke depan cukup berat, kita perlu membuat langkah-langkah penting sesuai kemampuan kita. Kita memang tidak dituntut melakukan hal-hal yang diluar kesanggupan kita (Al-Baqarah 286). Tetapi kita perlu membuat langkah untuk mengatasinya.
Pertama, menegaskan dan memperluas doktrin perjuangan kita. Dalam rangka menjunjung tinggi dan menegakkan agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya perlu menegaskan hal ini. Selama ini Muhammadiyah melaksanakan dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tijdid yang diwujudkan dalam amal usaha, program dalam kegiatan tertentu.
Dalam kegiatan ini, sudah tiba saatnya Muhammadiyah juga mengembangkan Dakwah Al-amru bil ‘Adli dan An-Nahyu ‘Anil Dhulmi. Yakni berjuang menegakkan keadilan dan membrantas kedzaliman (An Nahl 76 dan 90, Al A’raf 159 dan 181, dan Al Maidah 8). Barangkali bisa dikatakan Al-amru bil ma’ruf dan An-Nahyu ‘Anil Munkar lebih menitikberatkan pada kehidupan moral atau akhlak. Sedangkan Al-amru bil ‘Adli dan An Nahyu ‘Anil Dhulmi lebih menyangkut persoalan

Hubungan Radla’ah Lewat Donor Asi

Hubungan Radla’ah Lewat Donor Asi
Dra Siti Aisyah, MAg

Fenomena donor ASI mengundang pertanyaan dikalangan masyarakat. Permaslahan yang diperdebatkan terkait dengan hubungan mahram karena radla’ah (pemberian ASI oleh perempuan lain) yang menyebabkan tidak boleh menikah dengan ibu menyusui dan saudara sepersusuan.
Terkait dengan hubungan mahram karena radla’ah memang belum ada kesepakatan. Fatwa maupun Keputusan Tarjih juga belum ada. Di kalangan ulama Tarjih sudah ada wacana pemikiran tentang hal tersebut, namun belum ada kata sepakat, sehingga belum ada keputusan. Di kalangan ulama Fikqih, terdapat perbedaan pendapat. Donor ASI merupakan suatu kebutuhan. Mereka sepakat terdapat hubungan mahram karena radla’ah, sehingga perlu diketahui identitas donor, baik dari sisi kesehatan dan mendasari akhlak atau kepribadian anak.
Prinsip dasar dalam penetapan hukum donor ASI adalah bahwa donor ASI, termasuk wilayah muammalah duniawiyah, yang hukum dasarnya adalah “mubah”, sejalan dengan kaidah ushuliyyah

Sikap Orang Kafir (2)

Sikap Orang Kafir (2)
Surat Al-Baqarah ayat 165-167

Dalam diri manusia terkadang muncul semacam peperangan batin. Antara memilih yang hak dan yang batil. Terkadang timbul dalam hati manusia semacam pertentangan antara mengabdi kebenaran yang berasal dari Allah atau mengabdi kepada hawa nafsu. Sungguh beruntung orang yang dapat mengalahkan dan menundukkan hawa nafsunya dan memihak kepada kebenaran yang diyakininya. Mukmin yang baik yang diharapkan oleh Qs. Al-Baqarah [2]: 165 adalah orang yang meletakkan kecintaan dan loyalitas kepada Allah di atas kecintaan kepada hawa nafsu atau kepentingan pribadi.
Loyalitas kepada Allah dalam kehidupan di dunia ini tercermin, antara lain, dalam bentuk loyalitas kepada aturan-aturan dan tuntunan yang digariskan oleh Allah untuk kebahagiaan kehidupan manusia dimuka bumi. Tiadanya loyalitas kepada Allah bisa berbentuk ketidakpatuhan kepada pedoman dan petunjuk-petunjuk ilahi. Perilaku seperti ini juga dapat dianggap sebagai “mengambil yang selain Allah menjadi tandingan-tandingan”  yang dikecam oleh Qs. Al-Baqarah [2]: 165.
karena menganggap bahwa “tandingan-tandingan” Tuhan itu memiliki kekuatan seperti kemampuan

Memperkuat Keluarga Sakinah

MEMPERKUAT
KELUARGA SAKINAH

Mukatamar ke-47 ‘Aisyiyah di Makassar, bulan Agustus yang lalu, merupakan Muktamar yang istimewa bagi ‘Aisiyah, karena bertepatan denga satu abad ‘Aisyiyah. Untuk itu muktamar kali ini sedikit berbeda dengan Muktamar-Muktamar ‘Aisyiyah seblumnya. Muktamar ke-47 ini, sekaligus menandai ‘Aisyiyah memasuki abad kedua. Menandai abad kedua ini, dalam Mukmara kali ini, ‘Aisyiyah mencoba merumuskan tentang pokok pikiran ‘Aisyiyah abad kedua. Pokok pikiran ini memberikan gambaran, apa yang harus dilakukan oleh ‘Aisyiyah minimal untuk lima tahun kedepan.
Sebagai pelopor gerakan perempuan Indonesia, sebagaimana dinyatakan dalam pokok pikiran ‘Aisyiyah Abad kedua, dari zaman ke zaman para tokoh ‘Aisyiyah sejak awal pergerakan merintis kiprah dengan ruh keyakinan keagamaan yang kokoh, jiwa ikhlas, pengetahuan dan kecerdasan yang luas, sikap rendah hati, keuletan, pengalaman, kesungguhan, serta pengkhidmatan yang tidak kenal lelah dalam khazanah perjuangan kaum perempuan Islam. Kisah ‘Aisyiyah itu merupakan prjuangan untuk berjihad dalam memajukan seluruh aspek kehidupan melalui penguatan spiritualitas, akhlak,

Mencegah Kekerasan Atas Nama Agama

Mencegah Kekerasan Atas Nama Agama

Kekerasan atas nama agama mendapat sorotan dalam muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar. Paling tidak ada 4 poin dalam rekomendasi Muktamar yang menyorot tentang kekerasan atas nama agama ini. Dua point dalam isu keumatan, satu point dalam isu kebangsaan dan satu point dalam isu kemanusiaan universal untuk ditindak lanjuti pasca Muktamar ini.
Sumber-sumber kekerasan ini antara lain: takfiri (kecenderungan menkafirkan pihak lain), hubungan Sunni-Syiah, lemahnya toleransi, dan diskriminasi. Keempat hal tersebut patut menjadi perhatian agar kekerasan atas nama agama tidak berlangsung di bumi Allah.
Perkembangan muttakhir menunjukkan gejala meningkatnya perilaku keberagaman yang ekstrim antara lain kecenderungan mengkafirkan pihak lain (takfiri). Di kalangan umat islam terdapat kelompok yang suka menghakimi, menanamkan kebencian, dan melakukan tindakan kekerasan

Kezaliman Menuai Badai

Kezaliman Menuai Badai

Hakim, polisi, dan pengacara dijerat lembaga anti ruswah dan sebagian sudah masuk penjara. Jika para penegak hukum terjerat kasus hukum bagaimana nasib bangsa dan Negara hukum? Ibarat pepatah pagar makan tanaman. Apapun menjadi tidak aman karena penjaga hukum kehilangan amanah. Hukum dirusak olah penegaknya sendiri.
Keadaan malah tambah parah. Penegak hukum arogan dan sewenang-wenang. Siapapun seakan mudah dijebloskan ke bui hanya oleh seorang petinggi penegak hukum yang sok kuasa. Orang dijerat hukum karena  mengusik kepentinganya. Sementara para penjahat kelas berat yang merusak Negara dibiarkan leluasa karena sejalan dengan kepentingannya. Ketika diperingatkan oleh para ulama dan penjaga moral bangsa malah mencerca dengan congkak, seolah Negara ini miliknya. Kekuasaan dan arogansinya melebihi pemimpin tertinggi negeri. Atasnama hukum malah semaunya sendiri. Sungguh

Menebar Manfaat

MENEBAR MANFAAT
Mutohharun Jinan

Diriwayatkan dari Jabir berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baiknya manusia adalah orang yang  paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).” (HR Thabrani dan Daruquthni).
Hadits tersebut mendorong kaum Muslim untuk berlomba-lomba menjadi orang yang baik. Indicator kebaikan seseorang itu dapat dilihat dari manfaatnya bagi kehidupan orang lain, dimanapun ia berada. Semakin banyak member manfaat berarti semakin baik pula kehadirannya ditengah masyarakat.
Aspek kemanfaatan memang seringkali menjadi salah satu pertimbangan untuk mengambil suatu keputusan. Misalnya, jika seseorang harus memilih salah satu dari banyak kemungkinan, maka yang dipilih adalah yang paling banyak mengandung manfaat dan yang paling sedikit mengandung

Manusia Menurut Fitrah Beragama Tauhid

Manusia Menurut Fitrah Beragama Tauhid

Kiai Dahlan kerap kali menerangkan: “Agama itu adalah cenderungnya ruhani berpaling dari nafsu, yang naik ke angkasa kesempurnaan, yang suci, yang bersih dari tawanan benda-benda. Menurut Kiai Dahlan, orang yang beragama ialah orang yang jiwanya menghadap kepada Allah dan berpaling dari lainnya. Bersih tidak dipengaruhi oleh lain-lainnya, hanya tertuju kepada Allah, tidak tertawan oleh kebendaan dan harta benda. Sikap ini dapat dibuktikan dan dilihat dengan kesadaran menyerahkan harta benda dan dirinya kepada Allah.
Oleh karena itu, pada hakikatnya agama berada di dalam hati manusia. Bukti atau tanda orang yang beragama dapat dilihat pada lahirnya. Faham yang demikian itu, sesuai dengan agama fitrah

Ciri-ciri Orang yang Bertauhid

Ciri-ciri Orang yang Bertauhid
Hasanuddin, SPdI

Suatu hari, anak kecil, sang penggembala raja disuruh menjual salah satu gembalanya oleh Khalifah Umar dan jangan diberitahukan kepada raja. Spontan anak tersebut menjawab, “Lalu Fa ainallah?” “Dimana Allah?”  Dari kisah tersebut kita bisa bercermin bahwa anak tersebut marasa Allah selalu bersamanya dan takut berbuat sekecil apapun. Dengan kata lain anak tersebut memiliki tauhid yang tinggi kepada Allah yakni, menyakini bahwa Dia adalah satu-satunya zat yang maha segala-galanya.

Bagaimana cirri orang yang bertauhid?
1.       Memaafkan
Kita sering menyaksikan sekelompok masyarakat begitu mudah mengumbar emosi tanpa